Senin, 27 Juni 2011

Pemberantasan Feminine Mistique dalam Film Animasi SHREK



“… you can go to Harvard, you can be a Pilot, you can be an astonout.
But First, be a women”
                                            (First Be A Woman—Gloria Gaynor)


I.            GENDER

“State gender ideology refers to the assumption of gender states acts and the way it attempts to influence the construction of gender in society.”[1]

Gender merupakan sebuah kontruksi masyarakat akan peran, status, serta karakteristik akan maskulin dan feminin, yang mengiring pada pemahaman siapakah laki-laki dan siapakah perempuan. Budaya menjadi faktor utama dalam membentuk pemahaman tersebut. Ironisnya, konstruksi tersebut menghasilkan pemahaman bahwa laki-laki adalah kaum yang superior dan perempuan kaum inferior. Perempuan direpresentasikan sebagai sosok yang lembut dan cantik dengan kulit bersinar, rambut panjang, high heels, pakaian indah. Sedangkan laki-laki digambarkan sebagai manusia yang kuat, pencari nafkah, dibutuhkan perempuan atau berjiwa pahlawan. Inilah bentuk konstruksi tersebut!
Konstruksi-konstruksi yang ada telah melemahkan makna sebenarnya Dari perempuan dan menimbulkan pengeksploitasian yang luar biasa sejak dahulu. Hingga saat ini, kontruksi yang membelenggu tersebut telah mendaging dan menjadi pegangan maupun indikator untuk mengekang ekspresi manusia.
Gender yang kita ketahui adalah sebuah konstruksi belaka telah membutakan masyarakat, gender dianggap sebagai hal yang alamiah melekat pada diri perempuan dan laki-laki, sehingga seolah-olah tidaklah mengherankan jika ada ketidaksetaraan di antara keduanya.
Padahal, kita dapat membuktikan bahwa gender adalah hasil dari kebudayaan, seperti yang diungkapkan dalam Ensiklopedia untuk Pelajar yang mengatakan bahwa,
Gender adalah karakteristik dan sifat yang melekat pada diri kaum wanita dan pria yang dibentuk secara sosial dan budaya oleh masyarakat, seperti perempuan bersifat lembut dan emosional, sedangkan laki-laki bersifat rasional dan perkasa. Gender berbeda dengan seks (jenis kelamin). Pengertian “seks” mengacu pada perbedaan ciri fisik (biologis) antara wanita dan pria yang dibawa oleh seseorang sejak lahir.[2]

Masalah karakteristik laki-laki dan perempuan seringkali menjadi perdebatan dalam kancah publik, masyarakat kerap kali menganggap sifat dan karakteristik antara laki-laki dan perempuan mempunyai kaitan erat dengan seks yang dimiliki masing-masing.
Seperti halnya yang dinyatakan oleh Joanne Hollows dalam bukunya Feminitas, Femininisme, dan Budaya Populer, bahwa saat ini peran gender maskulin dan feminin yang diyakini terbentuk secara budaya telah diperdebatkan, sebab perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan tampak sebagai bagian dari sifat biologis ‘alamiah’ dari keduanya dan bukan sebuah konstruksi.[3]
Akhirnya, laki-laki dan perempuan disetir oleh konstruksi tentang peran dan anggapan akan sifat alamiah dari keduanya. Melalui anggapan-anggapan tersebutlah, timbul peran bahwa perempuan harus mengasuh, memasak, mengerjakan urusan rumah tangga, dan selamanya laki-laki tidak akan dipercayakan untuk mengemban tugas tersebut.
Pengertian inilah yang entah secara sengaja atau tidak sengaja menimbulkan pengeksploitasian bagi perempuan. Perempuan terkekang oleh sifat-sifat feminin—yang seolah-olah secara alamiah telah mendaging—membuat  dirinya tidak dapat bebas dalam mengekspresikan tingkah lakunya. Kenyataannya, perempuan yang ditakdirkan melahirkan anak, bukan serta-merta berarti memiliki peran dalam mengasuh dan membimbing anak, laki-laki (ayah) pun mengemban peran sama.

Ensiklopedia untuk Pelajar berpendapat, bahwa
“Identitas gender, yaitu maskulinitas (nilai-nilai tentang kelaki-lakian) dan feminitas (nilai-nilai tentang keperempuanan), disampaikan melalui sosialisasi oleh keluarga, lingkungan sekitar (teman sebaya), sekolah, dan media massa. “[4]
Ini menyatakan bahwa sifat-sifat yang ada pada laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang alami, namun ada unsur-unsur budaya yang mempengaruhinya, entah dari lingkungan manapun.
Jelas bahwa sejak kecil, perempuan senantiasa diajari untuk memasak, bersifat lembut, berbicara pelan yang mengarah ke sifat-sifat inferior. Sementara itu, laki-laki diajari untuk tidak manja, tidak boleh nangis, kuat, bersifat menolong dan sifat-sifat lain yang superior.
Hal ini dapat terlihat dari surat Kartini berikut.
…Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut ‘kuda liar’.[5]
    II.            GENDER (feminine mystique and masculine mystique) IN DISNEY PRINCESS

Seperti yang salah satu tulisan opini di Kompas, 24/05, dongeng menjadi alat sosialisasi yang ampuh. Di mana dongeng-dongeng seperti timun mas, turut serta melemahkan perempuan dengan penggambaran karakter perempuan yang tidak mampu mengambil keputusan secara bijak. Demikian pula dengan Disney dalam penggambarannya di dalam film animasi, terutama pada Disney Princess. Para putri dikemas dengan sedemikian rupa untuk menyatakan sebagaimana sifat dan karakteristik, peran, serta kedudukan yang harus melekat pada seorang perempuan di dalam masyarakat.

“Sering dinyatakan bahwa gadis remaja disosialisasikan pada nilai dan perilaku feminin yang dikaitkan dengan kepasifan, kepatuhan, dan kebergantungan.”[6]
     
Pernyataan inilah yang sepertinya menjadi pegangan dalam dunia Disney. Disney kerap kali memojokkan perempuan melalui animasi Disney Princess di mana sangat menonjolkan sifat feminin yang telah disinggung oleh Betty Friedan sebagai The Feminine Mystique. Feminine Mystique mendefisinikan perempuan sebagai orang yang sehat, cantik, terpelajar, hanya memikirkan suami, anak-anak, dan rumah tangganya.[7]
Disney, memperalat film animasi nya untuk mem-femininkan dan mem-maskulinkan penonton. Masing-masing dari princess tersebut, memiliki sisi feminin yang dikonstruksi untuk semakin menciptakan feminine mystique dan sekaligus masculine mystique. Para putri diceritakan tidak dapat hidup tanpa pangeran-pangeran, yang pada akhirnya tokoh pria dalam film animasi Disney, selalu menjadi pahlawan dan menonjolkan sisi superiornya. Masculine mystique dapat terlihat ketika para pangeran adalah laki-laki yang tampan, gagah, berkuda putih, memiliki pendamping hidup yang berstatus putri.
Feminine Mystique semakin terlihat ketika Disney Princess yang lebih ditonjolkan hanya Cinderella,  Aurora, Putri Salju, Belle, Ariel, dan Jasmine. Padahal adapula Mulan, Pocahontas, dan Tiana. Ketiga princess ini tidak sering ditonjolkan karena mereka tidak termasuk dalam kategori perempuan  feminin; ketidak kulit putihnya Tiana, sifat kasar Pocahontas dan  Mulan yang menang di medan perang.
Berikut adalah penjelasan singkat bagaimana nilai-nilai gender tersosialisasikan oleh Disney Princess.

*      Cinderella
Seorang gadis yang harus hidup melarat karena berada di bawah kuasa ibu tiri ini, akhirnya mendapatkan kembali harkat dan martabatnya hanya karena ia telah dinikahi oleh pangeran dan hidup bahagia di istana. Tanpa pangeran, ia akan selamanya menjadi gadis miskin.
*      Aurora
Gadis yang akan tertidur selamanya ini, tidak akan terbangun jika tanpa ciuman dari pangeran.
*      Belle
Seorang gadis miskin biasa yang sangat disukai oleh semua laki-laki di kampung ini, juga tidak akan menjadi putri dan diangkat harkat dan martabat keluarganya jika tidak menikah dengan pangeran.

*      Ariel
Demi mendapatkan cinta dari laki-laki idamannya, ia rela untuk menukarkan suaranya dengan sepasang kaki yang indah layaknya perempuan normal. Demi pangeran, ia meninggalkan ayahnya dan kesuperioran laki-laki juga sangat terlihat ketika sang pangeran sanggup menyelamtkan dunia bawah laut dari kejahatan penyihir, Ursula.

*      Snow White
Ketika pangeran berkuda datang dan mencium putri salju yang telah dianggap mati, dalam seketika putri salju bangun. Ini menujukkan betapa terpojoknya perempuan yang diselamatkan hanya dengan sekali ciuman dari pangeran. Jika putri salju tidak dicium oleh pangeran, maka ia akan mati untuk selamanya.
*      Jasmine
Putri ini harus segera menikah sebelum ulang tahunnya. Ketika ingin menikah dengan Alladin pun ia tidak disetujui, sebab putri raja tidak cocok dengan lelaki biasa.

Tiga putri tergolong feminis sehingga tidak masuk dalam kategori yang dikatakan oleh Joanne Hollows sebagai gadis remaja yang patuh, pasif dan bergantung.

*      Tiana
Putri Tiana yang berkulit hitam digambarkan sebagai kodok, hal ini sangat memojokkan orang kulit hitam, yang mana menyatakan bahwa orang kulit hitam tidaklah cantik. Pada akhirnya pun, putri Tiana dapat mencapai keinginannya dengan cara sendiri tanpa mengandalkan laki-laki.
*      Pocahontas
Perempuan yang tidak berkulit putih dan juga tidak dengan mudah menyukai laki-laki yang telah dijodohkan ayahnya. Ia juga tidak seperti perempuan yang terkonstruksikan lembut dan patuh. Ia justru  pembangkang!
*      Mulan
Mulan dalam filmnya juga dilecehkan ketika ia diketahui adalah perempuan yang menyamar sebagai laki-laki di medan perang. Mereka tidak mempercayainya lagi sebab ia adalah perempuan, perempuan tidak memiliki kekuatan dan pemikiran atau ide yang bagus untuk menaklukkan perang.

Masalah terbesar adalah Disney yang pasti telah memistikkan maskulin sehingga berpegang pada paham partriarki.
Partriaki tidak sehat. Ia melegitimasi solusi kekerasan atas persoalan-persoalan historis yang ada di dalamnya dengan tidak sengaja dapat menghancurkan seluruh spesies, lingkungan alam, dan kesejahteraan individu; ia disajikan oleh kematian dan digairahkan oleh kekuatan; ia mengklaim dapat mengatasi kontingensi yang ada, sementara yang sesungguhnya ditemukan adalah seksisme, rasisme, dan genosida.[8]

 III.            DREAMWORKS--SHREK’S ANIMATION

Dreamworks animation merupakan industri media yang cukup besar pula, saat ini antara Dreamworks dan Pixar terjadi persaingan yang sangat besar.

Dreamworks memang sejak dulu sudah jadi saingan berat. Sebagai dua perusahaan animasi yang besar di Amrik mereka selalu kebut-kebutan untuk menjadi yang terbaik di bidang animasi 3D atau yang lebih dikenal dengan sebutan CGI (Computer-Generated Imagery). Teknologi CGI ini membuat gambar yang dihasilkan lebih bagus dan terlihat seperti nyata.[9]

Dreamworks yang usianya lebih muda dibanding Pixar nyatanya dapat menarik perhatian penontonnya. Film animasi pertama mereka adalah Antz, sebuah animasi yang dirilis pada tahun 1998 dan meraih kesuksesan.
Dreamworks –studio yang dimiliki oleh sutradara Steven Spielberg ini, pada awal mulanya membuat film yang non-animasi, namun lama-kelamaan mereka merambah ke dunia animasi, hingga akhirnya munculnya Shrek (2001). Shrek menjadi film animasi pertama yang berhasil meraih Best Animated Feature Film di Oscar 2001.

Film kartun Shrek yang disutradari oleh Mike Mitchell merupakan animasi yang telah hadir dengan 3 seri, produsernya dari Dreamworks Animation yang dalam animasinya memparodikan begitu banyak tokoh negeri dongeng, seperti Pinokio, Tiga Babi dan lain sebagainya.[10]
Film animasi Shrek dinyatakan sangat sukses dalam kancah animasi di dunia. Berikut adalah rangking film animasi dengan pendapatan yang tinggi, dan Shrek seri kedua menduduki posisi paling atas. [11]



Rank
Nama Film
Studio
Penghasilan dunia
Thn
1
DreamWorks SKG
$919,838,758
2004
2
BlueSky
$878,701,244
2003
3
Disney/Pixar
$864,625,978
2003
4
DreamWorks SKG
$798,958,162
2007
5
Buena Vista/Walt Disney
$783,841,776
1994
6
Disney/Pixar
$683,807,981
2009
7
20th Century Fox
$655,388,158
2006
8
Disney/Pixar
$643,707,397
2007
9
DreamWorks SKG
$631,736,484
2008
10
Disney/Pixar
$631,442,092
2004
11
DreamWorks SKG
$603,900,309
2008
12
Disney/Pixar
$545,366,597
2001
13
Disney/Pixar
$533,268,237
2008
14
DreamWorks SKG
$532,680,671
2005
15
Buena Vista/Walt Disney
$504,050,219
1992
16
Disney/Pixar
$485,015,179
1998
17
DreamWorks SKG
$484,409,218
2001
18
Disney/Pixar
$461,983,149
2006
19
Buena Vista/Walt Disney
$448,191,819
1999
20
Warner Bros.
$384,300,000
2006



Bukanlah mengherankan jika film animasi Shrek menjadi tambang emas bagi DreamWorks Animation.[12]
Menurut referensi yang ada[13], dikatakan bahwa ada beberapa adegan Shrek yang mirip dengan adegan di animasi Pixar dan Disney. Salah satunya, yakni ada lagu Welcome to Dulog yang dinyanyikan oleh boneka kayu di lemari, lagu ini adalah pelesetan dari lagu milik Disney yang berjudul It’s a Small World—lagu theme park Disneyland. Dreamwork juga dinyatakan telah menyiapkan pengacara untuk berjaga-jaga apabila Disney menuntut adegan tersebut.
Kisah Shrek dengan kemampuan animasi Dreamwork ini dibuat berdasarkan sebuah novel karya William Steig yang adalah salah satu film yang sangat langka yang memenangkan hati setiap penonton. SHREK adalah film terbaik di tahun 2001, animasi terbesar sepanjang masa dan merupakan satu dari film langka sepanjang sejarah. Mike Myers membuat film Shrek ini sangat menyenangkan dan menarik. Mike Myers, Eddie Murphy dan Cameron Diaz turut berkarya dalam pengisian suara dalam film yang lucu ini.[14] (Lampiran)

Synopsis

SHREK 1:
Diceritakan Shrek adalah makhluk buruk rupa yang diprediksi bukan menjadi idaman perempuan manapun. Betapa tidak? Dengan kehidupannya di rawa dan gubuk kecil tentunya tidak dapat menyaingi kehidupan di istana yang serba indah dan mewah.
Suatu hari, Shrek mendapati banyak orang berada di rawanya, ia sangat marah dan akhirnya ia menghadap pada raja, yang menjadi penyebab keramaian di rawa. Lord Farquaad menggusur tempat tinggal semua makhluk negeri dongeng, dan mereka hanya dapat berdiam di rawa Shrek. Saat Shrek menuju Dulog (Kerajaan raja Lord Farquaad), raja sedang mengadakan sebuah turnamen, bagi pemenang akan mendapat tugas kehormatan menyelamatkan putri Fiona, calon istrinya yang sedang terkurung di bangunan dengan pengawasan ketat oleh naga api. Shrek secara tidak sengaja dianggap menjadi pemenang dalam turnamen tersebut. Akhirnya, Shrek dimanfaatkan raja untuk menyelamatkan putri Fiona, dengan perjanjian akan mengembalikan rawanya.
Shrek pergi menyelamatkan putri Fiona, seorang putri yang cantik dan mengharapkan ciuman dari pangeran Charming—pangeran tampan yang diyakini adalah cinta sejatinya. Tidak disangka, Shrek yang menjadi penyelamat baginya—monster yang tidak romantis, tidak tampan, berkulit hijau, naik keledai dan tidak cocok bagi seorang putri.
Alkisah, Putri Fiona terkurung di bangunan tinggi karena telah mendapat kutukan berat, ketika matahari terbenam, ia akan berubah menjadi monster berkulit hijau (ogre), untuk menghapus kutukan tersebut, ia harus berciuman dengan cinta sejatinya. Setelah Shrek berhasil menyelamatkan putri Fiona, mereka menempuh perjalanan ke kerajaan Dulog untuk merayakan pernikahan raja Farquaad dan putri Fiona. Selama perjalanan inilah Shrek ternyata jatuh cinta pada putri Fiona, namun ia malu sekali dengan penampilannya yang bukan pangeran Charming. Ia merasa, sebagai lelaki, ia tidaklah tampan dan tidak cocok bagi putri Fiona yang cantik dan menginginkan kehidupan di istana. Nyatanya, putri Fiona juga mencintai Shrek, meskipun awalnya ia merasa jijik dengan Shrek, sebab ia memegang prinsip bahwa seorang putri hendaknya menikah dengan pangeran yang tampan, bukan dengan makhluk buruk rupa. Ia berpikir tidak mungkin ogre Shrek adalah cinta sejatinya yang dapat menyembuhkan kutukan tersebut dengan ciuman. “Masa, aku ciuman dengan Ogre?”
Singkat cerita, Putri Fiona memilih dirinya tetap menjadi ogre, karena bagi dia perempuan tidak harus cantik seperti yang telah terkonstruksi. Putri Fiona menikah dengan Shrek, ia melepaskan dirinya dari konstruksi budaya di Kerajaan, bahwa putri harus menikah dengan pangeran tampan dan hidup bahagia di istana.

            SHREK 2:
Seri ini disutradari oleh Andrew Adamson, Kelly Asbury, dan Conrad Vernon dan berhasil mengumpulkan lebih banyak uang, dengan biaya produksi sebesar US$150 juta (Rp1,4 triliun)[15]
Setelah pulang dari bulan madu, Shrek diundang ke negeri Far-Far Away, yakni kerajaan Raja Harold dan ratu Lilian, orang tua Fiona. Di seri yang kedua ini, pasangan Shrek dan Fiona kerap kali bertengkar karena Fiona yang telah menyetujui untuk kembali ke Far-Far Away.[16] Di kerajaan inilah, Shrek dihina oleh raja Harold karena penampilannya yang sangat buruk. “Terserah orang tua mu suka atau tidak, aku tetap adalah ogre!” Bagi ayah Fiona, Fiona hendaknya menikah dengan pangeran yang telah dijodohkan untuknya.
Ibu peri yang telah membuat putri Fiona menjadi ogre pun, berusaha membujuk Shrek untuk meninggalkan Fiona. Ia membacakan beberapa cerita dongeng, seperti Cinderella dan ia mengatakan “Cinderella hidup bahagia selamanya, dan… tidak ada ogre, demikian pula dengan putri salju, putri tidur, mereka bertemu dengan pangeran tampan”
Pada seri ini, Shrek merebut sebuah ramuan ibu peri yang dapat membuat dia menjadi tampan, dan esok paginya ia menjadi lelaki tampan (beserta kedelainya—donkley yang berubah menjadi kuda putih) sehingga sangat diidam-idamkan banyak orang. Shrek dan Fiona akan menjadi manusia yang indah bentuknya jika mereka berciuman pada jam 12 malam. Mereka tidak melakukannya, mereka tetap menjadi ogre seperti seri pertama dulu, keyakinan Fiona adalah ia tidak ingin seperti putri yang lain, “Aku ingin menikahi ogre.”
SHREK 3:
Pangeran Charming yang dulu merebut cinta Fiona ini datang kembali untuk merebut tahta kerajaan Harold, sebab Harold telah meninggal. Pada seri yang ketiga ini, Shrek dan Fiona  dikemas layaknya pangeran dan putri-putri yang ada. Mereka didandan sedemikian rupa, putri Fiona dengan gaun dan high hells serta pemolesan kosmetik pada wajahnya; Shrek dengan baju pangeran dan ikat pinggang yang ketat.
Shrek seri ke-3 ini lah DreamWorks memunculkan Cinderella, Putri Salju dan Putri Tidur. Di mana peran mereka menjadi sesuatu yang patut dibahas berkaitan dengan isu gender.

 IV.            FEMININE MYSTIQUE in SHREKS ANIMATION

Dari apa anak lelaki dibuat?
Katak, keong, dan ekor anak anjing.
Dari apa anak perempuan dibuat?
Gula, rempah-rempah, dan segala sesuatu yang manis.[17]

Wajah menjadi indikator yang paling dasar dalam merepersentasikan kecantikan dan kejelekan seseorang. Demi mendapatkan wajah yang cantik, banyak perempuan mengarahkan segala cara yang padahal merupakan sebuah penghinaan besar-besaran pada diri sendiri. Baudrillard dalam Aquarini di buku Becoming White[18]  mengungkapkan bahwa kosmetik adalah alat untuk penghapus wajah, menghapus mata di balik mata yang indah dan menihilkan bibir, di balik bibir-bibir yang merekah. Intinya pemakaian bahan-bahan kosmetik seperti lipstick, air liner, dsb telah menutupi wajah cantik yang pada pada perempuan tersebut.
Konstruksi akan seorang putri, adalah anak perempuan yang cantik, lembut, berambut panjang, putih, langsing, gaun panjang dan indah. Inilah yang dinamakan feminine Mystique. Mistik-mistik yang membelenggu perempuan dari ujung rambut hingga ujung kaki. The feminine Mystique menyatakan bahwa ‘nilai tertinggi dan satu-satunya komitmen bagi perempuan adalah pemenuhan femininitas mereka’.[19]
Mistik kecantikan dalam bentuk yang sederhana yakni keyakinan bahwa cantik adalah baik, jelek berarti jahat.[20]

Demikian pula yang terjadi pada putri Fiona dalam animasi Shrek. Putri yang pada matahari terbenam akan menjadi ogre berkulit hijau dan gemuk, bukan selayaknya putri-putri yang ada pada umumnya. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran kerajaan Far-Far Away—kerajaan yang berada di bawah pemerintahan raja Harold—ketika putri mereka harus menerima kutukan tersebut. Putri Fiona pun dilema dengan keadaannya yang tidak menyenangkan tersebut, di mana ia tidak memenuhi potensi femininnya atau potensi kecantikannya.

Bukan begini wajah tuan putri seharusnya”, ujar putri Fiona ketika ia menjadi ogre.

Namun, dengan mengalami perjumpaan dengan Shrek, adegannya dalam seri pertama juga menunjukkan bagaimana putri Fiona akhirnya mematahkan feminine Mystique. Ini terlihat ketika ia memilih Shrek sebagai pasangan hidupnya, ia bisa saja memilih pangeran lain untuk menjadi cinta sejatinya dan mengubah ia kembali menjadi cantik.

Seharusnya aku menjadi cantik.” Ujar Fiona ketika ia dicium oleh Shrek dan mendapati ia tetap menjadi ogre.
Kamu sudah sangat cantik dengan keadaan demikian…” tutur Shrek.

Putri Fiona memilih menikah dengan Shrek dan hidup di rawa, ia tidak mendambakan kehidupan istana yang menyenangkan.
Para putri yang muncul pada akhir cerita Shrek The Third pun memberikan feminine mystique yang selama ini memang tertanam. Betapa tidak? Mereka adalah Cinderella, Putri Salju, Putri tidur dan Rapunzel, yang telah diungkit di atas, sebagai alat sosialisasi atau penguat feminine mystique yang sangat berpengaruh pada masyarakat.


    V.            MASCULINE MYSTIQUE

Penampilan tidak selalu mewakili segalanya…” ujar Shrek di seri pertamanya.
Shrek pun mengalami Masculine Mystique, di mata orang-orang ia adalah monster yang menakutkan, penuh lendir dan bermandikan rawa. Dalam Shrek seri pertama tersebut, banyak diceritakan mengapa ia ingin memagari rawanya. Shrek mengatakan bahwa dunia mempunyai masalah besar dengannya, sebab orang-orang di sekitar selalu ketakutan ketika bertemu dengan Shrek.

Ogre besar, bodoh dan buruk rupa!”
“Mereka hakimi aku sebelum mengenalku”

Konstruksi masyarakat akan laki-laki dan terutama di negeri dongeng adalah seseorang yang gagah, tampan, berkuda putih, berkulit bagus. Indikator tersebutlah yang mematahkan bahwa Shrek bukanlah laki-laki yang patut dihargai apalagi menjadi pangeran. Ketika pada seri ke-2 (lih. Sinopsis) Shrek menjadi tampan dan keledai yang selalu bersamanya menjadi kuda putih, dalam seketika ia menjadi sangat terhormat di mata orang-orang di sekitar. Ini menjadi bukti akan diskriminasi yang juga dirasakan oleh laki-laki dan terdapat unsur untuk memenuhi potensi maskulin.

Siapa yang bisa mencintai makhluk begitu mengerikan dan buruk rupa? Tuan putri dan buruk rupa tidak cocok. Karenanya aku tidak bisa terus di sini dengan Shrek. Peluangku hidup bahagia selamanya dengan cinta sejatiku. Tidakkah kau paham? Sudah ditakdirkan begini.


  VI.            CRITICS DREAMWORKS TO DISNEY ANIMATION

Disney memunculkan tokoh-tokoh utama yang berpenampilan sangat cantik dan indah. Ini sangat bertolak belakang dengan Shrek. Seperti yang kita ketahui, Shrek hadir dalam gebrakan baru di mana tokoh utamanya sendiri berburuk rupa namun tetap bahagia pada akhirnya.
Dalam animasi Shrek, terlihat jelas bagaimana putri Fiona mau mematahkan feminine Mystique yang ada. Ini bukan sekedar perlawanan, namun terdapat unsur di mana terdapat kritik yang kuat oleh Dreamworks pada Disney. Shrek menampilkan putri Rapunzel yang bisa berkelahi, tidak lembut, mau mengumpulkan kayu bakar, bersedia makan tikus, dan mau melakukan apa yang dilakukan Shrek meskipun sangat menjijikkan dan bagi masyarakat sangat maskulin.
Film animasi Shrek memang memparodikan banyak tokoh-tokoh dongeng, di serinya yang ketiga (Shrek the Third). Dreamworks menampilkan para putri-putri buatan Disney, yakni Putri Tidur, Putri Salju, dan Cinderella yang pada akhir cerita bersama-sama mematahkan feminine mystique yang telah dibentuk oleh Disney untuk mereka.
Disney Princess yang selama ini kita kenal lembut dan cantik, oleh Dreamwork ditampilkan bertolak belakang. Bukan kebetulan, namun kentara sekali bahwa putri ala Dreamworks yang mengambil karakter Disney dapat terlihat dari penampilan mereka. Putri Salju yang identik dengan warna biru dan merah, Putri Tidur dengan mahkota segitiganya, Cinderella dengan baju birunya pula. Ini adalah teguran dari Dreamworks bahwa tidak semua perempuan atau putri adalah lembut, patuh dan pasif.
Sebelum perjuangan para putri untuk keluar dari belenggu feminine mystique tersebut, Putri Tidur, Putri Salju, dan Cinderella, yang terkurung dalam penjara, merasa tidak berdaya, dan menunggu atau mengandalkan pangeran-pangeran datang menolong mereka. Namun Putri Fiona, Ratu Lilian tidak berpikir demikian.

                        Kita perlu cari jalan keluar! ajak Putri Fiona.
                        Ya, para putri-putri, ambil posisi.
Putri Fiona melihat perbuatan mereka dan bertanya Apa yang kalian lakukan?”
Tunggu untuk diselamatkan,” seru Putri Tidur
Kita hanyalah bertiga, maksudku tiga putri; puteri seksi, dua orang aneh sirkus, dan gadis tua, dan ogre hamil.”

Untungnya, ratu Lilian mempunyai pola pikir yang berbeda, ia tidak mengharapkan lelaki untuk datang menolong, ia mengajak para putri untuk menyelamatkan diri, akhirnya para putri mau lepas dari belenggu-belenggu kelembutan, mereka membebaskan dirinya dan berjuang bersama untuk keselamatan diri dan kerajaan.
Dari ketiga putri tadi, Dreamworks menyatakan bahwa di balik kelembutan mereka, tersimpan sisi superior. Hal ini terwujud ketika Putri Salju yang menggelabui musuh dengan suaranya yang indah, namun justru membuat mereka kewalahan. Cinderella pun tidak kalah, ia menggunakan sepatu kacanya sebagai senjata untuk memukul lawan dan Putri Tidur yang ketika ia jatuh tertidur di tanah, musuh justru tersandung oleh tubuhnya yang akhirnya terjatuh.
Para putri-putri tersebut yang justru menjadi pahlawan dalam menyelamatkan Kerajaan Far-Far Away, jika tanpa kesadaran mereka akan keharusan dalam pembebasan belenggu yang selama ini mengikat, kerajaan tidak akan selamat.
Akhirnya, Dreamworks juga menentang apa yang dikatakan ibu peri bahwa tidak ada putri bahagia yang menikah dengan ogre (lih. Synopsis Shrek2). Dengan kemunculan prinsip Putri Fiona, terdapatlah pula sejarah putri yang sangat bahagia dengan menikahi ogre dn hidup di rawa.


VII.            KESIMPULAN
Tidak mudah untuk membebaskan masyarakat kita dari pendapat aristoteles yang menyatakan bahwa perempuan adalah alat. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa masyarakat yang cenderung partriakal akan semakin menciptakan mistik-mistik feminin yang membelenggu kaum perempuan di seluruh dunia.
Sudah saatnya para perempuan itu sendiri bertindak lebih bijak dalam menempatkan dirinya dalam kancah publik. Seperti yang diungkapkan pada feminisme marxis bahwa perempuan tidak akan mandiri jika secara ekonomi masih bergantung pada laki-laki. Maka dari itu, butuh kesadaran diri dari perempuan sendiri, karena dengan kesadaran itulah feminine mystique akan secara sendirinya terbongkar .




[1] (Blackburn, 2004) dalam Siti Hariti Sastriyani. Gender and Politics. (Yogyakarta, 2009), h. 237
[2] Abdul Syukur. Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar. (Jakarta, 2005), h. 1
[3] Joanne Holloes. Feminisme, Femininitas, dan Budaya Populer. (Yogyakarta, 2010), h. 14
[4] Opcit, ensiklopedia
[5] Kartini dalam majalah Swaragama Edisi #15
[6] Opcit, Joanne Holloes, h. 14
[7] Friedan dalam Joanne Holloes. Feminisme, Femininitas, dan Budaya Populer. (Yogyakarta, 2010), h.15
[8] Anthony Synnott. TUBUH SOSIAL. Simbolisme, Diri, dan Masyarakat. (Yogyakarta, 1993), h. 98
[9] http://citraanindya.blog.upi.edu/2009/06/24/dreamworks-vs-pixar/
[10] http://www.shrek.com/
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Animasi
[12] http://www.tribun-timur.com/read/artikel/97179/Dreamworks-Konversi-Shrek-Lama-ke-3D
[13] http://citraanindya.blog.upi.edu/2009/06/24/dreamworks-vs-pixar/
[14] http://www.odiva-pekanbaru.com/tampilberita.php?halaman=25&jenis=11
[16] XY Kids. Edisi 21/VII/20 Mei-02 Juni. h. 50
[17] Opcit, Synnott, h. 90
[18] Aquarini Priyatna Prabasmoro. Becoming White. (Yogyakarta, 2003), h. 12
[19] Opcit, Joanne Holloes, h. 15
[20] Opcit, Synnott, h. 123