Ketika kita mulai menguak tentang pers, kita sedang berbicara tentang masyarakat. Pers ada karena masyarakat dan masyarakat pun tidak akan terlepas dari pers yang merupakan bentuk media yang saat ini ‘seolah-olah’ secara kongkret membawa berkah yang menguntungkan masyarakat. Dunia pers yang mana merupakan perkumpulan para jurnalis, tengah berjuang untuk mempertahankan hak dan kebebasan mereka dalam hal pemberitaan, namun apakah perjuangan tersebut justru berbalik mengorbankan kesejahteraan masyarakat?
Kata Pers, mengingatkan kita dengan istilah akrabnya ‘anjing penjaga’, namun saat ini kerja pers justru sebaliknya sangat diawasi oleh masyarakat melek media. Pemikiran Bill kovack dan Tom Resensial dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme, menyatakan bahwa jurnalisme tak lain adalah sistem pemasok berita dan inilah yang menjadi alasan mengapa kita sangat peduli dengan karakter berita. Fenomena yang diolah para jurnalis dalam bentuk berita sangat bersifat influental. Mereka entah sadar atau tidak telah menjadikan berita sebagai instrumen untuk mengonstruksi kehidupan masyarakat secara menyeluruh .
Konstruksi tersebut sering terjadi pada kaum perempuan, di mana kaum perempuan yang telah diberi label tertentu oleh pihak pers. Gender yang membedakan kepribadian antara laki-laki dan perempuan sebagian besar adalah konstruksi dari para jurnalis, mereka yang memberitakan kepada masyarakat bagaimana pribadi antara dua kelamin tersebut dalam hak dan kewajibannya. Ironisnya, konstruksi tersebut, melahirkan sebuah kebiasan bagi kaum perempuan. Seringkali dalam pemberitaan pers, perempuan yang menjadi sasaran penindasan. Dalam kasus pemerkosaan, contohnya, yang disalahkan justru perempuan dengan alasan fisik mereka yang menggiurkan, namun kenyataannya tidak demikian.
Perempuan tidak mendapat tempat yang bijak di dunia pers, serta merta ketidakbijakan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan kita, sudah saatnya pers menjadi salah satu ruang bagi perempuan untuk berekspresi dan menunjukkan tidaktepatan pandangan negatif yang telah dikontruksi tersebut. Kesetaraan adalah mahkota bagi perempuan dan badan pers patut bertanggung jawab dalam memperjuangkan kesetaraan ini. Kita meyakini kedepannya, ketika pers bicara tentang perempuan, pers secara tidak langsung memberikan mahkota bagi perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar